
Minggu malam menelusuri sebagian kota Samarinda, mencari tabung Elpiji yang bisa dibeli. Mulai dari toko dekat rumah sampai ke Sempaja, Bengkuring, Lempake, Lambung Mangkurat. Total kira-kira 30kilometer ditempuh, bensin hilang mungkin sekitar 5-6 liter karena berkali-kali berhenti tanya ke toko. Puluhan toko dikunjungi. Semuanya memasang tulisan KOSONG, atau menjawab kosong. Ada yang bahkan bilang sudah 10 hari kosong.
Di daerah Sempaja menemukan toko yang punya stok tabung bersegel sekitar 5 buah. Tapi pemiliknya ngotot tidak mau jual. Dia bilang itu persediaan buat dia sendiri dan keluarga/kerabatnya. Kita mau bayar lebih juga tidak mau.
Benar-benar celaka ketika ketergantungan pada bahan gas ini untuk memasak. Elpiji menghilang stoknya dari Samarinda.
Saya bilang ke istri saya, kalau pemilik toko di Sempaja itu bisa mengatakan menyimpan stok untuk keluarga/kerabatnya. Saya minta dia mencari info dari teman-temannya.
Benar juga, Senin pagi setelah telpon sana-sini akhirnya didapatlah stok Elpiji dari agen besar yang dimiliki oleh temannya. Itupun ternyata tidak lancar membelinya. Ketika akan mengambilnya, karyawannya semua bilang stok kosong. Setelah menyebut kalau sudah janji dengan bosnya, akhirnya stok 1 tabung Elpiji pun keluar. Lega. Istri saya lega akhirnya kegiatan memasak masih bisa berjalan.
Entah sampai kapan Elpiji langka.
Negeri yang aneh.
http://www.samarindacity.com/2007/03/27/gas_elpiji_kian_langka_di_pasaran